Waspada Istidraj: Ketika Nikmat Berlimpah Justru Menjauhkan Kita dari Allah
Kota Sukabumi – Ada kalanya kehidupan seseorang dipenuhi berbagai kemudahan. Uang melimpah, makanan serba lezat, karier semakin cemerlang, anak-anak meraih kesuksesan, dan pujian dari manusia terus berdatangan. Namun, di balik semua kenikmatan itu, bisa jadi terdapat keburukan yang dilakukan tanpa pernah terungkap. Dalam kondisi seperti ini, seorang Muslim hendaknya senantiasa berhati-hati dan melakukan introspeksi diri. Sebab, tidak semua kenikmatan merupakan pertanda keridaan Allah SWT.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaih al-‘Ibad mengutip sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud RA tentang beberapa keadaan manusia yang patut diwaspadai. Salah satunya adalah orang yang secara perlahan-lahan ditarik menuju kebinasaan melalui nikmat yang terus dilimpahkan kepadanya. Kondisi ini dikenal dengan istilah istidraj, yaitu keadaan ketika seseorang terus memperoleh kenikmatan, sementara dirinya semakin jauh dari Allah SWT karena terus melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, melimpahnya nikmat seharusnya diiringi dengan peningkatan rasa syukur dan ketakwaan, bukan justru membuat seseorang lalai.
Peringatan lainnya berkaitan dengan ilmu dan kedudukan. Seseorang mungkin semakin bertambah ilmunya, semakin tinggi gelarnya, dan semakin besar kewibawaannya di tengah masyarakat. Namun, apabila semua itu tidak disertai dengan bertambahnya petunjuk dan ketaatan kepada Allah, maka kelebihan tersebut dapat menjadi sumber kesombongan dan menjauhkan dirinya dari jalan kebenaran. Ilmu dan kedudukan semestinya menjadikan seseorang semakin rendah hati, bukan merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Selain itu, ada pula orang yang merasa aman karena dosa dan aibnya tidak pernah diketahui oleh masyarakat. Padahal, tertutupnya keburukan bukan berarti seseorang terbebas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Bisa jadi Allah masih memberikan kesempatan kepadanya untuk bertobat dan memperbaiki diri. Demikian pula dengan pujian manusia. Banyaknya orang yang memuji, mengikuti, dan mengagumi seseorang tidak serta-merta membuktikan bahwa dirinya telah menjadi pribadi yang baik. Pujian justru dapat menjadi ujian apabila membuat seseorang lupa untuk mengevaluasi kekurangan dirinya.
Hadirin yang dirahmati Allah, berbagai kenikmatan, ilmu, kedudukan, dan pujian hendaknya menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan sampai kemudahan hidup membuat kita lupa bersyukur, tertutupnya aib membuat kita merasa aman dari dosa, dan pujian manusia membuat kita terlena dalam kesombongan. Mari senantiasa bermuhasabah, memperbanyak istigfar, dan memastikan bahwa setiap nikmat yang kita terima membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT, bukan justru menjauhkan kita dari-Nya.
