• Masjid Agung Kota Sukabumi adalah Pusat Ibadah, Ilmu & Persatuan di jantung Kota Sukabumi. Masjid Peradaban yang Inovatif & Kolaboratif.
Sabtu, 1 Agustus 2026

6 Bentuk Menjaga Lisan Dalam Al-Quran

6 Bentuk Menjaga Lisan Dalam Al-Quran
Bagikan

Menjaga lisan merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam. Banyak persoalan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat, berawal dari ucapan yang tidak terjaga. Sebaliknya, lisan yang digunakan dengan baik dapat menjadi sebab datangnya keselamatan dan keberkahan.

Suatu hari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bertanya kepada Rasulullah,

“Wahai Rasulullah, bagaimana agar kami menjadi orang yang selamat?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kemudian memberikan tiga nasihat yang sangat berharga:

Jagalah lisanmu.
Hendaklah rumahmu membuatmu betah (tinggallah di rumah ketika tidak ada keperluan yang baik).
Tangisilah dosa-dosamu.

Di antara ketiga nasihat tersebut, menjaga lisan disebutkan pertama kali. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh ucapan terhadap keselamatan seseorang. Dalam hadis yang lain, Rasulullah menjelaskan bahwa keselamatan seorang manusia sangat bergantung pada kemampuannya menjaga lisan.

Enam Etika Berbicara dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat lengkap tentang bagaimana seorang muslim berbicara. Para ulama menjelaskan bahwa terdapat beberapa prinsip komunikasi yang digambarkan dengan istilah qaulan (perkataan). Setidaknya ada enam prinsip yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, Qaulan Sadida: Berkata Benar dan Tepat

    Allah SWT berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

    Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus berbicara dengan jujur, benar, dan tepat. Ucapan yang baik bukan hanya bebas dari kebohongan, tetapi juga disampaikan pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.

    Kaum Nabi Musa dahulu sering mengucapkan apa saja yang terlintas di benak mereka tanpa mempertimbangkan akibatnya. Mereka bahkan melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak pantas kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah kemudian mengingatkan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam agar tidak meniru perilaku tersebut.

    Seorang muslim hendaknya berpikir sebelum berbicara sehingga setiap perkataan membawa manfaat, bukan mudarat.

    Kedua, Qaulan Ma’rufa: Perkataan yang Baik dan Jelas

      Dalam QS. Al-Baqarah ayat 235, Allah mengajarkan agar manusia menggunakan perkataan yang baik dan jelas.

      Ucapan yang baik tidak mengandung makna yang samar atau menimbulkan banyak penafsiran. Terlebih dalam perkara yang berkaitan dengan hak, kewajiban, dan hukum, kejelasan ucapan sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

      Ketiga, Qaulan Layyina: Lemah Lembut dalam Bertutur

        Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika diperintahkan berdakwah kepada Fir’aun:

        “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44)

        Menariknya, perintah berkata lembut diberikan bahkan kepada Fir’aun, seorang penguasa yang zalim dan mengaku sebagai tuhan.

        Ini menjadi pelajaran bahwa kelembutan dalam berbicara merupakan akhlak seorang mukmin. Hindarilah kata-kata kasar, hinaan, bentakan, maupun ucapan yang menyakiti hati orang lain. Sebab, kelembutan lebih mudah membuka hati daripada kekerasan.

        Keempat, Qaulan Baligha: Perkataan yang Membekas di Hati

          Allah SWT juga mengajarkan prinsip qaulan baligha sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 63.

          Perkataan yang baligh adalah ucapan yang mampu menyentuh hati, sesuai dengan kondisi orang yang mendengarnya, dan memberikan pengaruh positif. Dakwah maupun nasihat tidak cukup hanya benar, tetapi juga harus disampaikan dengan cara yang menyentuh sehingga mudah diterima.

          Kelima, Qaulan Karima: Memuliakan Orang Tua

            Dalam QS. Al-Isra ayat 23, Allah memerintahkan agar seorang anak berbicara kepada kedua orang tuanya dengan perkataan yang mulia (qaulan karima).

            Bahkan ketika orang tua melakukan kesalahan atau telah lanjut usia, seorang anak tetap diperintahkan menjaga adab berbicara. Tidak boleh berkata kasar, membentak, apalagi merendahkan mereka.

            Kemuliaan akhlak seorang anak salah satunya tercermin dari cara ia berbicara kepada kedua orang tuanya.

            Keenam, Qaulan Maisura: Perkataan yang Menenangkan dan Memberi Harapan

              Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 28 tentang pentingnya menggunakan qaulan maisura, yaitu perkataan yang mudah, lembut, dan memberikan harapan.

              Ketika kita belum mampu membantu seseorang, jangan sampai penolakan kita menyakitkan hatinya. Sampaikan dengan tutur kata yang baik, penuh empati, serta tetap memberikan harapan dan doa agar orang tersebut merasa dihargai.

              Menjadikan Lisan sebagai Jalan Kebaikan

              Lisan adalah nikmat yang besar sekaligus amanah yang berat. Dengan lisan seseorang dapat memperoleh pahala yang terus mengalir melalui dakwah, nasihat, zikir, dan ilmu. Namun dengan lisan pula seseorang dapat terjerumus ke dalam dosa melalui fitnah, ghibah, dusta, adu domba, dan ucapan yang menyakiti orang lain.

              Karena itu, setiap muslim hendaknya membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berkomunikasi: berkata benar, jelas, lembut, menyentuh hati, penuh penghormatan, dan memberikan harapan.

              Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu menjaga lisan, memperbaiki akhlak dalam bertutur kata, serta memperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

              SebelumnyaKeluarga Adalah Benteng Untuk Mencegah LGBT
              Tidak ada komentar

              Tulis Komentar

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Masjid Agung Kota Sukabumi
              Jl. A. Yani No. 55 Kel. Gunung Parang Kec. Cikole Kota Sukabumi
              Tahun Berdiri1935