Melindungi Diri Dari Penyimpangan LGBT
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Luth ‘alaihissalam kepada kaumnya, yaitu kaum Sodom. Kaum ini dikenal dalam Al-Qur’an sebagai kaum yang melakukan penyimpangan perilaku seksual.
Para ulama menjelaskan bahwa di tengah masyarakat tersebut, laki-laki memiliki ketertarikan dan menjalin hubungan seksual dengan sesama laki-laki. Perbuatan itu dilakukan secara terang-terangan hingga menjadi kebiasaan di tengah masyarakat mereka. Karena itu, mereka dikenal pula dengan sebutan kaum Sodom atau kaum Nabi Luth.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada masa Nabi Luth, tetapi juga masih dijumpai pada masa sekarang dalam berbagai bentuk.
Para ahli mengenalnya dengan istilah LGBT, yaitu: L (Lesbian): perempuan yang memiliki ketertarikan kepada sesama perempuan. G (Gay): laki-laki yang memiliki ketertarikan kepada sesama laki-laki. B (Biseksual): seseorang yang memiliki ketertarikan kepada laki-laki maupun perempuan. T (Transgender): seseorang yang mengidentifikasi dirinya berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Q (Questioning/Queer): seseorang yang masih mempertanyakan atau mengeksplorasi identitas maupun orientasi seksualnya.
Dalam pandangan Islam, kisah kaum Nabi Luth menjadi pelajaran agar umat manusia menjaga fitrah yang telah Allah tetapkan, memelihara kehormatan diri, serta menjalani kehidupan sesuai dengan syariat Allah. Dakwah kepada siapa pun hendaknya dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan akhlak yang mulia.
Pesan untuk Umat Islam.
Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi, umat Islam perlu meningkatkan kewaspadaan. Jagalah diri, keluarga, dan anak-anak dengan menanamkan akidah yang benar, memperkuat pendidikan agama, membangun komunikasi yang baik di dalam keluarga, serta memilih lingkungan pergaulan yang positif.
Jangan mudah terpengaruh oleh budaya atau gaya hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, jadilah pribadi yang menjaga kesucian diri, memelihara fitrah yang Allah tetapkan, serta saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga iman kita, melindungi keluarga kita dari berbagai bentuk penyimpangan, dan mengokohkan langkah kita di atas jalan yang lurus.
