Pandangan Imam Al-Ghazali: Mengapa Ilmu Lebih Utama daripada Ibadah Tanpa Ilmu?
Kota Sukabumi – Ilmu dan ibadah merupakan dua perkara yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, ibadah yang tidak dilandasi pengetahuan berisiko membuat seseorang keliru dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.
Dalam Islam, menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas untuk menambah wawasan, melainkan bagian penting dari perjalanan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ilmu menjadi petunjuk yang membimbing seseorang agar setiap amal dan ibadah dilakukan sesuai tuntunan syariat.
Pandangan tersebut dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin. Ulama besar yang dikenal sebagai Hujjatul Islam itu mengibaratkan ilmu seperti pohon, sedangkan ibadah merupakan buah yang dihasilkannya. Pohon menjadi fondasi tumbuhnya buah, sementara buah merupakan hasil yang dapat dinikmati dari keberadaan pohon tersebut.
Perumpamaan ini memberikan pesan bahwa ilmu memiliki kedudukan penting karena menjadi dasar bagi seseorang dalam menjalankan ibadah. Tanpa pengetahuan yang memadai, seseorang mungkin saja rajin melakukan berbagai amalan, tetapi belum tentu memahami tata cara, ketentuan, maupun tujuan dari ibadah yang dikerjakannya.
Meski demikian, Imam Al-Ghazali tidak bermaksud mengesampingkan keutamaan ibadah. Sebaliknya, ilmu dan ibadah harus berjalan beriringan. Ilmu tanpa pengamalan tidak akan memberikan manfaat secara utuh, sedangkan ibadah tanpa ilmu dapat kehilangan arah dan berpotensi menyimpang dari tuntunan agama.
Pesan serupa juga tercermin dalam nasihat Hasan al-Bashri yang mengingatkan agar seorang Muslim tidak meninggalkan salah satunya: menuntut ilmu tanpa melalaikan ibadah dan beribadah tanpa melupakan kewajiban mencari ilmu. Keduanya merupakan bagian dari kesempurnaan penghambaan kepada Allah SWT.
Al-Qur’an juga menegaskan kedudukan orang-orang berilmu. Dalam surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah SWT menyatakan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang diberi ilmu beberapa derajat. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kemuliaan yang besar dalam kehidupan seorang Muslim.
Pada akhirnya, pesan Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa kesalehan tidak cukup diukur dari banyaknya aktivitas ibadah, tetapi juga dari pemahaman yang benar terhadap agama. Seorang Muslim perlu terus belajar, memperbaiki kualitas amal, dan menjadikan ilmu sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupannya. Sebab, ibadah yang dilandasi ilmu akan lebih terarah, sementara ilmu yang diamalkan akan menghadirkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
